Disini saya akan coba paparkan dampak kenaikan BBM dari cara pandang Mak Tiur (tokoh khayalan). Karena kita tahu sisi cara pandang mak tiur tidak membutuhkan data karangannya Badan Statistik Nasional dan tidak terikat kepada pengusaha manapun di dunia ini.
Okelah, mak tiur agak sikit-sikit ngerti dengan berita yang dia dengar dari metro tv, mengenai defisitnya APBN pemerintah dengan adanya subsidi ini. Tapi dia juga mendengar kalo pemerintah lebih bermaksud untuk menyalurkan subsidi langsung kepada rakyat yang termasuk jugak mak tiur di dalamnya. Dengan adanya program BLT (Bantuan Langsung Tunai) maka subsidi yang dulunya lebih banyak di nikmati oleh kaum konglomerat (cuplikan kalimat Wakil Presiden) kini dapat langsung di nikmati oleh masyarakat paling bawah dengan penyaluran langsung ini.
Mak tiur pun agak aguk-aguk kepala. Dia agak senang sich dapat BLT ini, karena dana cash udah bisa di nikmati.
Mak tiur pun berkehendak pergi ke pasar, untuk beli ikkan tongkol dan beberapa perlengkapan makan lainnya, agar muncung pak Tiur tidak ribut nanti malam yang merepet karena nasi tidak ada di meja.
Mak tiur pun membawa uang secukupnya, hasil perhitungannya di kamar, dengan data harga pasar yang masih blum update (data harga ikkan semalam).
Dia pun menghambat angkot KPUM 61 untuk pergi ke Blok 1. Karena pajak / pasar cuma ada di Blok 1 Perumnas. Naiklah dia dengan membawa keranjang ikkan. Tiba di pajak dia blng, “Pinggir Bang!”, si supir pun meminggirkan angkotnya. Di kasihnyalah ongkos 1000 perak.
Supir: “Bahh kurang ini namboru (tante), udah naik ongkos jam 12 tadi malam, kan dah di umumkan semalam namboru”,
Mak Tiur: “Ah manalah aku nonton itu, aku pun asyik nonton acara MAMMAMIAH di Indosiar sampai jam 1 pagi”
Supir: “Ahhh, kekmananya? udah naik namboru jadi 2500.”
Mak Tiur: ” Bahhh, kuranglah nanti belanjaanku, pas kali ku bawak uangnya ito. Udahlah besoklah ku ganti, karena di sekitar sininya rumahku”
Si supir pun langsung menjalankan angkotnya dengan mulut yang merepet-merepet dalam hati.
Tiba di pajak ikkan, Mak Tiur pun mo beli ikkan tongkol 1 kilo.
Mak Tiur: “Aku ambil satu kilo lah to (istilah utk mas), bungkus ya, nanti ku ambil”
Mak tiur pun berjalan ke tukang cabe.
Mak Tiur: “Beli 1 kilo lah cabenya eda (panggilan utk mamak-mamak lain)”
Di bungkuslah, dan di kasih ke mak tiur. Mak tiur pun kasih 15000 perak.
Si penjual Cabe pun terkejut,
Penjual Cabe: “Bahh, udah naik eda, naik jadi 17.000, dah mahal ongkos utk ambil cabe ke Sidikalang,”
Mak Tiur: “Bahh, kapan naik eda?”
Penjual Cabe: “setelah naik BBM lah eda, kekmanalah udah susah hidup sekarang, maklum lah eda, aku pun ambil untung sikitnya”
Mak tiur pun kasih tambahan lagi 2000 perak, dengan perasaan dongkol karena uangnya jadi berkurang banyak.
Mak Tiur pun berlalu dan menuju kearah penjual Minyak Makkan.
Mak Tiur: “Eda, kasih dulu minyak makkan satu ons, dengan sembari mengasih uang 5000 perak”
Penjual Minyak Makkan: “Ahh udah naik eda, dah naik jadi 7000. Dah naik BBM eda, jadi ongkos biaya transportasi nya udah naik. Maklumlah kau ya eda”
Mak tiur pun terpaksa kasih uang 7000. Dengan sisa uang yang 15000, dia dongkol dan pergi mengarah ke tukang ikan tadi.
Mak Tiur: “Berapa ikkannya ito?”
Penjual Ikan: “udah naik inang (istilah mamak-mamak juga), jadi 18000 sekilo.”
Mak Tiur: “Aduhh, naik semua bahhh, ”
Penjual Ikan: “lah iyala, emang bawak ini dari laut ke sini pakai apa inang? Bisa pakai air bawaknya”
Mak Tiur: “Ah kuranginlah ito, jadi setengah kilo, gag cukkup lagi uangku”
Dengan belanjaannya mak Tiur pun pulang ke rumah dengan perasaan dongkol, karena gag jadi beli Ambalacan dengan Andaliman untuk meng-arsik ikan tongkol tadi. Soalnya uangnya dah gag cukkup lagi.
Di rumah sambil ngiris-ngiris cabe, dia pun menghitung-hitung dalam hati.
Dalam hati mak tiur: “Kolok, di kasih pemerintah nanti BLT 100.000 / bulan, maka aku cuma dapat belanja per hari nya cuma 3000 perak, sementara belanjaanku satu opsi aja naiknya sampai 2000 perak. Atau kolok jadi pemerintah kasih 300rb, maka tiap hari aku dapat 10rb. Wah enak donk.
Tapi sampai kapan pemerintah kasih duit cuma-cuma kek gitu, BLT tahap satu aja cuma 6 bulan aktifnya, lewat dari situ, gag jelas kemana rimbanya (kata kutu-kutu di rambut mak Tiur)
Mak Tiur: ” Iyah jugak ya”
Sementara harga tidak pernah turun. BBM tidak pernah turun. Grafiknya selalu naik (kata kutu itu lagi)
Mak Tiur: “Iyah jugak ya”
Kutu Mak Tiur: “Makanya kau jangan goblok, mau di kasih iming-iming di kasih uang, tapi efeknya ke depan itu apa, kau kira kita rakyat kecil aja gag butuh transportasi ? emang orang-orang kaya aja yg punya transportasi, Angkot itu pakai apa emangnya? pakai gigik kau? Trus kau gag pakai minyak lampu rupanya masak? ”
Mak Tiur: “Iyah jugak ya, sambil memasukkan cabe ke dandang”
Kutu Mak Tiur: “makanya, kenaikan BBM itu cuma dalih, gag ada benarnya. Pemerintah gag defisit, dan gag akan pernah defisit. Ladang minyak kita banyak, tapi kenapa kita harus ikut harga minyak dunia, sementara kita sendiri udah mampu untuk mengolah minyak”
Mak Tiur: “tapi pihak swasta nya yang di kasih untk mengolahnya”
Kutu Mak Tiur: “yach iyalah, swasta itu siapa? kan kebanyakan asing. Bukan rakyat kita. Kita punya rakyat udah punya banyak lulusan teknik perminyakan, banyak yang kerja di field minyak, bahkan perusahaan minyak punya Arifin Penegoro (MedCo) pun udah ada dan udah mendunia. Jadi masak gag sangggup mengolah minyak sendiri.”
Mak Tiur: “Iyah jugak ya”
Kutu Mak Tiur: “Ya makanya, jangan asal mau di kasih Bantuan Tunai trus senang-senang muncung kau itu, lihat lah efeknya ke depan, kita cuma di jadikan sapih perahan sama pemerintah. Kita cuma bisa di bodoh-bodohin. Lihatlah yg demon cuma kebanyakan mahasiswa, karena mereka yang lebih tahu sepak terjang pemerintah. Mereka yang tidak bisa di bodok-bodokin ama pemerintah ini. Jadi mereka adalah pahlawan-pahlawan sejati kita, yang lebih mengerti rakyat daripada pengusaha atau asing”
Mak Tiur: “Jadi kekmanalah itu kita bikin?”
Kutu Mak Tiur: “Yach gorenglah ikkan mu itu, biar ada makan suami mu nanti malam, aku pun mo tidur di ketombe mu yang banyak ini, soalnya kita hanya bisa serahkan sepenuhnya ke tangan rakyat, dan berdoalah kau, semoga nanti di tahun 2009, terpilih presiden yang benar-benar pro rakyat, dan tidak pro kepada pihak asing atau pengusaha-pengusaha bejat itu”
*) Mak Tiur adalah fiktif belaka, maka jika ada kesamaan, itu hanya ketidak sengajaan belaka. Jangan di ambil hati ya