duaon’s mind
msgbartop
whAt is In mY hEaD
msgbarbottom

16 May 08 Dilema Pemuda-Pemudi Indonesia

Udah kerja dimana kau on? (ah aku cuma kerja gitu-gitu aja tante, maklumlah lagi ngerintis usaha, jadi hidup urak-urakan) Ah, carilah kerjamu dulu, nanti kan usahamu bisa di jalankan sambilan. Biar terus menikah kau dan punya anak.

Flash-back ke tahun 1989 (kala SD dulu). Sang guru bertanya kepada Budi, Kau mau jadi apa klo udah besar Budi? Mau jadi polisi bu guru. Kalau kau Wati? mau jadi Pegawai Negeri bu. Kalau kau On? mau jadi pegawai Telkom bu.Ya bagus, jawab bu guru. Semua punya cita-cita jadi orang hebat (hebat dimana ya? semua jadi babu) Harusnya dulu guru berkata, Ohh…….. jangan mau jadi pegawai, harusnya kita bercita-cita sebagai seorang pengusaha besar. Ya walaupun semua tidak memiliki nasib jadi pengusaha, setidaknya dari kecil kita sudah di motivasi untuk mulai bermimpi.

Flash back ke tahun 1999 (kala SMU dulu). Kau mo kemana Poltak? tanya si Japikkir. Wah aku mo kuliah ke ITB coy, biar bisa kerja di perusahaan asing. Klo kau Tigor? ah aku kuliah di STPDN ajalah coy, biar jadi Camat. Klo kau On? aku mau ke ITB jugalah coy, biar bisa langsung kerja (dulunya belum sadar, karena masih masuk dalam pemikiran simple dan terjangkau, walaupun bercita-cita masuk ITB, tapi gag pernah gw menang ikutin TRY-OUT, karena malamnya gag pernah belajar soal-soal, asyik main struktur VB ajah, karena ternyata lebih asyik hehehhehehe).

Flash back ke tahun 2003 (kala kuliah dulu). Wah klo aku lek (istilah “mas” dalam bahasa jowo-nya), aku mau kerja ke Saudi Arabia, maunya jadi tenaga kerja kilang minyak, kata si Rindu. Klo aku lek maunya kerja ke Jepanglah, biar banyak uang. Klo kau on? wah itu aku belum jelas lek. Soalnya pada saat itu belum mikir aku mau kemana, masih terfokus pada utak-atik scripting -nya OM PHP dan ASP.

Tamat kuliah, polemik pun terjadi. Ku mencoba cara-cara yang sudah di ajarkan dari kecil kepadaku, dan aku pun melamar ke sebuah swasta. Di terima dengan training 3 bulan. Oh kerja pun semangat. Klik sana klik sini, terima perintah dari suvervisor. Di bulan ketiga baru terasa, bahwa tenaga hanya di mamfaatkan. Nilai web yg aku kerjakan rata-rata 1 juta keatas, dan dalam sebulan bisa kerjain sampai 5 web. Tapi gaji cuma 700rb (- di kurangi klo telat 1 detik aja di sistem, dan klo tidak hadir) .

Dengan proses yang seperti itu, akhirnya aku pun menyerah. Ku keluar, karena tidak setuju dengan semangat peras karyawan dalan perusahaan itu. Ku akan mulai hidup baru, hidup terluntang lantang.

“Kok bodoh kali kau, kata tanteku, harusnya kau bisa punya gaji sebulan, klo pun mo buka usaha, kan bisa kau kerjakan sambilan”.

“Kok bodoh kali abang, kata pacarku saat itu (beda dengan pacarku yg sekarang, yg full support terhadapku hehehehe), Kan bisa abang kerjakan sambilan proyek2 abang itu”

“Kok bodoh kali laek, kan enak kerja di perusahaan laek, duduk aja dapat duit, kata kawan awak”

“Kok bodoh kali si Duaon itu, kenapa dia keluar kerjaan, kan bisanya di kerjakan dia usahanya sebagai kerjaan sampingan, kata tetangga kami (yach dia gag tau sich, waktu kerjaan itu terkuras dari jam 8 – jam 5 sore. Mau kerjakan apalagi sisa waktu satu hari itu?).

Untungnya Ayah dan Ibuku menghargai keputusanku. “Yach klo memang itu yang terbaik, ya lakukanlah, Kata Ayahku” Cuma inilah kata-kata yang menghiburku dan membangkitkan semangatku. Ada yang support dan dukung aku. Klo ayahku dan ibuku berkata sama dengan yang lainnya, mgkn aku akan mengetik kembali CV lamaranku dan melamar kemana-mana.

Yach itulah dilema pemuda- pemudi bangsa ini, menghadapi persoalan masyarakat yang tidak simple. Menghadapi pemikiran yang dari turun temurun di asuh dan di bimbing untuk jadi pencari kerja bukan jadi pembuat kerja.

Yach semoga nanti di masa depan, bangsa ini tidak menjadi budak di negaranya sendiri.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks


Leave a Comment