Beberapa hari lalu saya menulis tentang black campaign yg terjadi di masyarakat kita mengenai isu Telepon 666 atau isu telepon santet yang dapat mengakibatkan kematian. Dengan mempelesetkan promo telepon provider tersebut, terbit sebuah isu yg begitu menggelikan menurut saya
Saya mencoba mengirimkan pertanyaan seputar isu ini kepada Pihak AXXIS melalui Ibu Grace Henny (grace…….@axisworld.co.id) yg sekarang bekerja di AXXIS.
Dan inilah jawaban email dari Ibu Grace,AXIS Statement
Terima kasih atas masukan Anda. Kami memahami adanya pesan SMS yang
beredar berkeenaan dengan AXIS. Melalui kesempatan ini, kami ingin
mengklarifikasi bahwa pesan yang disampaikan tidak memiliki dasar sama
sekali. Satu-satunya alasan kenapa Axis memutuskan untuk menggunakan
tarif Rp60/sms, Rp 60 per menit untuk telepon ke sesama Axis dan Rp600
per menit untuk telepon ke operator lain adalah agar perhitungan ini
mudah diingat.
Perkenankan kami untuk menambahkan bahwa Axis merupakan operator GSM dan
3G nasional terbaru yang bertujuan untuk membuat layanan GSM menjadi
terjangkau bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dengan mengembalikan
kendali kepada para pelanggan melalui penerapan tarif yang sederhana,
transparan dan kompetitif. Perusahaan ini didukung oleh Saudi Telecom
Company (www.stc.com.sa) dan Maxis Communications (www.maxis.com.my).
Keduanya merupakan operator telekomunikasi terkemuka di negaranya dengan
lebih dari 20 juta pelanggan dan beroperasi di mancanegara.
Isu SMS Santet/666 ini telah mencerminkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat mudah di pengaruhi oleh hal-hal yg berbau mistis dan agama. Akal logika dan penerapan ilmu pengetahuan masih sangat kurang di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika isu seperti ini saja udah mudah masuk dan menyebar di kalangan masyarakat, maka bisa jadi isu yang lebih berbahaya seperti isu satu agama atau isu pembantaian suku akan dapat dengan mudahnya masuk dalam lingkup kehidupan bermasyarakat yg pluralisme ini, yang tentunya dapat mengganggu stabilitas negara kita yang tercinta ini.
Yach, hendaknya kita bisa lebih memfilter/menyaring informasi-informasi seperti itu dan tidak menyebarkannya tanpa adanya dasar dan fakta yg kuat yang bisa di terima oleh akal dan logika yg lebih sehat.
Viva Pendidikan, dukung Anggaran Pendidikan 40%